pesona kata

Aboutqu

Ini Saya…!

Jam menunjukkan pukul 21.00, udara dingin, angin berhembus keras.Seorang ibu muda, Umi Kaltsum, tengah meregang nyawa di satu klinik bersalin, di sudut wilayah Depok yang sepi. Sang suami, Wazir Nuri, seorang guru SMP, seharusnya ada di sisinya, menemani saat kelahiran anak ke duanya. Tapi tidak. Ia tidak di sana. Ia tengah bergabung dengan para mahasiswa dan rakyat berdemo di istana. Dan membiarkan istrinya meregang nyawa sendiri. Belum ada tanda-tanda. Hanya suara rintihan silih berganti dengan lafadz zikir. Lalu hening. Sungguh mendebarkan. Menegangkan. Malam terus beranjak. Lolong anjing terdengar di kejauhan. Tidak aneh, karena sekeliling klinik bersalin itu adalah perumahan orang Kristen di Depok lama. Warisan dari orang-orang Belanda masa lalu. Mereka di kenal dengan panggilan Belanda Depok. Dan rata-rata mereka memelihara anjing di rumahnya.

Satu jam berlalu. Tiba-tiba terdengar suara tangis dari dalam kamar. Membelah malam. Memecah kesunyian. Suara bayi. Bayi itu telah lahir. Tepat pukul 22. 00 pada bulan Mei di hari ke tujuh. Itulah tempat dan waktu kelahiran seorang bayi, itu-lah saya Dan selang beberapa tahun setelahnya, ibu muda itu masih melahirkan empat orang bayi lagi.

**@**

Masa kanak-kanak saya lewati di kampung Srengseng Pondok Cina. Sekarang kampung itu sudah hilang dari peta. Telah berubah menjadi pusat pendidikan paling bergengsi di negri ini, Universitas Indonesia (Ada dendam dalam diri saya pada UI karena merampas dan mengusik masa kanak-kanak saya ) Dahulu, kampung saya sangat tenteram, nyaman dan asri. Pohon-pohon besarnya sungguh rimbun. Hingga udara menjadi sejuk dan segar. Biasanya dari jenis pohon buah produktif. Seperti durian, rambutan, nangka, mangga, bacang, kebembem, jambu, belimbing dan aneka jenis lainnya. Ladang singkong, pisang, jagung, kacang dan aneka sayuran tersebar di setiap sudut. Di sebelah utara kampung ada rawa. Saat itu saya merasa rawa itu sangat angker. Di kelilingi hutan karet di sebelah baratnya dan kebun jambu biji di bagian timurnya. Semak-semak berduri hampir menutupi seluruh tepian rawa. Ada pohon dadap besar yang tumbuh di sisi selatan. Menambah kesan angker rawa itu. Namun bunga-bunga teratai yang tumbuh menutupi sebagian permukaan rawa mengurangi kesan angker itu. Saat bermekaran indah sekali. Warnanya biru muda, merah jambu dan putih. Setelah UI dibangun rawa itu menjadi bagian taman kampus. Dan bagian utaranya dibangun masjid. Jika malam, pantulan lampu Masjid di permukaan rawa menambah pesona rawa malam hari. Romantis.

Seperti kebanyakan anak-anak kampung, saya belajar mengaji setelah sholat magrib dan Kembali saat malam membungkus alam. Dengan obor dari bambu atau dari pelepah pepaya saya dan teman-teman menembus gelap menuju pulang. Pagi hari pergi ke sekolah dan pulangnya siang hari. Setelah makan, biasanya anak-anak kampung saya membantu orangtua. Dari mengisi bak mandi, mencari kayu bakar atau mencari makanan ternak. Selain itu, sayapun terlibat aneka permainan anak kampung yang mengasyikan. Mandi di kali, memancing di sawah, mengobor ikan dan belut malam hari, perang-perangan (biasanya dengan senjata bambu sumpitan, bambu pletokan, karet jepretan atau pedang dari batang kayu) bermain bola di ladang bekas tanaman singkong, bermain layang-layang, bergelayut di tebing yang bawahnya sungai kecil, membuat bola dari getah karet, mencari biji karet, berburu puyuh, mencari belalang kayu, mengekes ubi atau kacang, mencari buah ciplukan, anggur lemot, kedondong hutan dan aneka aktifitas mengasyikan lainnya. Biasanya saya dan teman-teman saat itu, selalu membuat sendiri alat-alat permainan yang diambil dari alam. Membuat gagang pancing dari bambu atau pelepah daun salak. Mencari bambu sumpitan di pinggir kali Ciliwung, dan buah centean untuk pelurunya. Membuat baling-baling dari biji karet, membuat layang-layang dari daun gadung (sejenis umbi beracun yang biasa dimakan penduduk setelah racunnya dibuang melalui proses yang lama), juga membuat pisau dari paku yang digilas roda kereta. Membuat bola dari kertas lalu diikat dengan tali berbentuk jaring. Membuat jerat burung dari tali yang dianyam. Saat itu, aneka burung banyak terdapat di kampung saya. Kutilang, kepodang, jalak, pelatuk, jepetong, kipas-kipas, peking, cici, cica, cocok jantung, anis, dokelik atau alap-alap dan lain-lain. Di sawah banyak juga terdapat aneka jenis belibis, bangau dan ayam-ayaman. Binatang-binatang liar seperti ular, musang, rase, kelinci, tupai, biawak dan landak masih sering pula terlihat. Kini binatang-binatang itu telah pergi, hilang entah kemana.

Saya habiskan waktu di kampung itu ketika saya SD. Sebuah sekolah Muhammadiyah yang sangat sederhana. Setelah itu saya pindah ke tempat baru, sebuah perkavlingan yang disediakan pemerintah setelah desa saya digusur. Sebelumnya perkampungan baru itu adalah perkebunan karet.

Sejak TK sampai SMP saya bersekolah di perguruan Muhammadiyah di dekat rumah. Karena kedua orangtua saya adalah guru di sekolah tersebut. Boleh dibilang, keluarga besar saya adalah keluarga guru. Kakek saya, Kiai H.M. Usman, adalah tokoh Muhammadiyah di Depok yang dikenal sebagai mualim Usman. Ia guru sejak tahun lima puluhan. Ayah saya adalah anak tertua beliau. Juga seorang guru. Paman-paman saya dari ayah, rata-rata guru. Begitu pula ibu saya. Kakak dan dua adik saya juga guru. Dan beberapa orang sepupu saya yang lain juga guru. Pekerjaan guru seperti warisan keluarga.

Saya menamatkan SMA pada tahun 1985 di SMA Negri 28 Pasar Minggu. Di SMA itulah saya mendapat sentuhan pertama kali dengan Islam yang membuat ‘pencerahan’ dalam hidup saya.

Sejak Juli 1997 sampai Juli 2003, saya menjadi pengajar tetap di SLTP Islam Terpadu Nurul Fikri. Saya mengajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Siroh Nabawiyah. Saya pernah pula menjadi guru BP, pembina Osis dan wakasek bidang kesiswaan di sekolah tersebut.

Saya menikah pada tanggal 23 Desember 1992. Istri saya, adalah ‘jebolan’ IKIP Jakarta. Hingga kini, saya dianugerahi dua orang putri dan empat orang putra. Mereka adalah bintang yang selalu menemani saya kemana pergi dan menghiasi langit hati saya jadi semarak. Mereka adalah angin semilir yang menyejukkan kalbu saya. Mereka adalah cahaya mentari yang menghangatkan aliran darah saya. Dan mereka adalah ladang subur yang akan saya tuai pada saatnya kelak. Mereka adalah;

Asma Wafia

Kholid Saifulloh

Syahid Husein

Urwah Utsmani

Aisyah Hurun’ain dan

Syahid Hasan

Hobi saya membaca. Terutama buku-buku keagamaan, sejarah dan sastra (Islami). Puisi-puisi bertuturnya Taufik Ismail sangat saya sukai. Caping Gunawan Muhammad juga, Begitupun tulisan-tulisannya Helvi TR , Ust Rahmat Abdullah dan Anis Matta. Oya, Migrasi para kampret-nya FX Rahardi juga hebat menurut saya. cerpen2nya Ahmad Tohari dan AA.Navis juga oke. Terakhir, beberapa buku dawah dan harokah sangat mempengaruhi perjalan hidup saya. Karya-karya Fathi Yakan, Yusuf Qordhowi, Sayyid Qutb, Hasan Al-Banna, Said Hawwa adalah diantaranya.

Saya juga suka menulis, jalan-jalan dan kemping. Selain itu, saya masih rutin olah raga terutama bulu tangkis. Kadang2 sepak bola dan joging.

Lagu-lagu Ebit G Ade pernah sangat saya sukai. Kekuatan syair-syairnya sungguh luar biasa saat itu. Menginspirasi sebagian langkah saya ke depan bahkan mewarnai cita-cita saya.

Karenanya Saya pernah punya cita-cita sederhana, yaitu memiliki rumah di desa. Halamannya luas, ada kolam ikan, ladang dan kebun buah di belakang rumah. Suasananya tenang, tenteram dan asri. Hanya ada suara air mengalir tiada henti, semilir angin, kicau burung dan nyanyian serangga. Lalu saya bisa mengelola sekolah desa yang sederhana. Mengajar anak-anak desa yang lugu agar mereka maju. Saya juga bisa bergaul dengan masyarakatnya yang ramah. Saya tidak tahu, apakah masih ada tempat seperti itu?

Sayapun ingin sekali mengamalkan hadits Nabi,” Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.” Saya masih harus berjuang keras untuk mewujudkan itu dalam kehidupan keseharian saya.

Satu peringatan ayat Al-Quran sungguh membuat saya sangat takut dan khawatir, yakni;”Maukah kami kabarkan orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang yang menyangka berbuat kebaikan di dunia ini namun sesungguhnya ia berada dalam kesesatan…” (QS. Al-Kahfi, 18 : 103-104)

‘Guru’ saya pernah mengajarkan satu doa agak panjang, yang mampu memberi kesan kuat dalam pemaknaan dan penghayatannya, yaitu; “Allahumaqsim lana min khosyyatika ma tahulu bihi bainana wa baina ma’syiatika wa min thoatika ma tubalighuna bihi jannataka wa minal yaqini ma tuhawinu bihi alaina mashoiba dunya Allahumma matti’na bi asmaina wa abshorina wa quwwatina ma ahyaytana waj-al tsa’rona ala man dzolamana wan shurna ala man aadana wala taj-al mushibatana fi dinina wala taj-alidunya akbaro hamina wa la mablagho ilmina wa la tushalith alaina man lam yarhamuna..”

Ada lagi kata motivasi yang masih terus juga saya perjuangkan dengan sungguh-sungguh. yaitu,”Jika engkau tidak disibukkan oleh hal-hal yang besar engkau akan disibukkan oleh hal-hal kecil.” Karena itulah saya selalu punya mimpi besar. Dan masih terus berusaha keras melakukan amalan-amalan besar. Proyek besar untuk kemanfaatan besar yang bisa dirasakan umat.

Sekarang ini, untuk sementara saya tinggal di Subang. Mengelola SMP IT boarding school di sana. Untuk mewujudkan satu mimpi besar saya. Sambil menunggu ’panggilan’ ke tempat yang lebih ‘mapan.’ Insya Allah. Aamin.

Subang, Maret 2008

Categories

kalender

September 2010
M T W T F S S
« Aug    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

  • lina: top markotop :)
  • Lina: Subhanallah indah nian katanya...jika satu saja mampu dihayati, maka akan memberikan perubahan dalam kebaikan. . terimakasih atas kata-kata yang mamp
  • deef: iya mbak lina betul.. tangisan memang ada untuk itu kan?!..:)

About

This is an example of a WordPress page, you could edit this to put information about yourself or your site so readers know where you are coming from.