Saat ‘joging’ beberapa waktu lalu, saya mampir di kedainya Mas Yodhia Antariksa. Satu dari beberapa tempat yang rutin saya singgahi. Sekedar mengurangi kepenatan, kejenuhan atau hanya menyapa dan silaturahim. Tapi saya jauh lebih banyak mendapat manfaat, sambutan ramah dan jamuan yang renyah nan krispy dari ramuan khas Mas Yod. Menurut saya, hidangan kedai-nya satu dari beberapa blog yg kerap menginspirasi. Saya agak awam dengan topic bahasan manjemen, tapi sajian Mas Yod jadi terasa gurih dan renyah. Paling tidak wawasan saya tentang manajemen jadi semakin tercerahkan
(oya, makasih banyak Mas Yod, jazakallahu khoiron)
Satu sajian telah mengingatkan saya tentang arti kehidupan sesungguhnya. Sense of purpose, istilah beliau, bahwa tujuan hidup yang tidak jelas, semu dan samar menyebabkan kebosanan dan ketidak jelasan arah menuju akhir tujuan. Terjadi misorientasi hidup dalam menapaki rute raihan prestasi yang sejati. Semua serba kelabu dan tak jelas arah. Lalu kabut pesimis dan ketakutan berpadu dengan kejenuhan luar biasa, hingga mampu membabat cita dan membunuh jiwa. Itulah awal sebuah kekalahan yang menghancurkan.
Mengunyah sajian itu, menjadi semakin jelas, bahwa yang menjadi perbedaan sangat mendasar antara Alexander the Great bersama tentaranya dengan para Penakluk muslim bersama prajuritnya adalah, bagaimana mereka memahami dan meyakini sense of purpose lalu memperaktekkannya dalam hidup mereka. Alexander yang memiliki kekuatan dan kemampuan penaklukan luar biasa akhirnya hanya dikalahkan oleh ketidak jelasan visi hidupnya. Jalannya terhenti dan mati. Karena mereka hanya memburu harta dan kekuasaan dalam menjalankan misinya. Saat semua telah mereka dapatkan, ada wilayah kosong sangat luas yang tak terisi dalam jiwa mereka. Lalu sepi menyergap dan kejenuhan membunuhnya perlahan-lahan.
Adapun para Panglima muslim, bersama tentaranya mereka menapaki jalan penaklukan dengan menyebarkan cahaya akhlak, ilmu dan peradaban. Misi utamanya adalah dawah. Cara pengamalannya dengan jihad dan ukhuwah. Dan tujuan yang diharapkan adalah surga. Tak ada yang melebihi rasa keinginan luar biasa dahsyat para mujahid untuk menggapai tujuan hidup mereka. Tak ada yang bisa menyamai apalagi mengalahkan tujuan hidup mereka. Tak ada yang bisa mengganti apa yang menjadi tujuan hidup mereka. Karena yang mereka isi dalam jiwa hidup mereka adalah menggapai surga. Gambaran surga yang benar telah menanamkan sense of purpose SANGAT KUAT menyatu dalam jiwa mereka. Menjadikan hidup penuh gairah, dinamis dan memiliki pasokan energi yang tak habis-habis. Itulah sebuah jawaban sederhana, mengapa barisan jihad tak pernah sepi. Itulah satu bukti kecil, tentang makna dari nilai kehidupan hakiki. Bahwa hidup, apapun warnanya, apapun rasanya, tetap memiliki cita rasa keindahan dan sangat bernilai.
Kini, apapun masalah hidup yang kita hadapi, beratnya beban dan ujian yang datang bertubi-tubi… tak ada kata menyerah. Ada kesabaran. Ada kesukuran. Ada harapan. Ada sebuah janji kemenangan. Surga yang penuh kenikmatan. Tidakkah kita jauh lebih baik dari saudara kita di Palestina? Derita yang mereka rasa, duka yang mendera, nestapa yang datang setiap harinya. Tapi mereka masih tegar mengatakan, “…kami tak takut Israel, kami tak takut Amerika, kami hanya takut pada Allah..! Pada-Nya saja kami berharap…!” tidakkah hati kita tergetar mendengar ucapannya?! lihatlah, betapa harapan yang besar, optimisme dan ketegaran menghadapi ujian merasuk dalam dirinya. Sense of purpose yang kuat. Subhanallah.
Sukur pada-Mu ya Allah, atas nikmat yang selalu Kau curahkan pada kami, setiap hari…! Sehingga kami tetap bisa menikmati pesona pelangi meski dengan rasa jiwa yang lara.