pesona kata

14 Jun, 2009

Pelajaran dari (maaf!)Kentut

Posted by: fahri In: ARTIKEL

Konon, ada seorang wanita, ibu muda yang tengah dirundung masalah. Datang pada seorang ulama, meminta solusi atas apa  yang dia hadapi. Saat mengutarakan masalahnya, wanita itu tak sadar melepas angin dari perutnya hingga terdengar jelas. Kelakuan yang masuk katagori sangat tidak sopan. Apalagi di hadapan ulama besar. Betapa malu wanita itu, merah semu wajahnya. Senyum kecut di bibirnya. Serba salah tingkahnya. Gusar. Takut. Malu. Menjadi satu. Namun Sang ulama tak bereaksi. Bahkan mengatakan, “Keraskan suaramu…! Pendengaranku payah..!” Wanita itu membelalak. Ada secercah asa di matanya. Ulama itu tak mendengarnya. Ia tuli. Wanita itu merasa aman. Tidak perlu malu. Meski tak sengaja, buang angin di depan ulama. Sejak saat itu, sang ulama mendapat julukan A’shom di akhir namanya, tepatnya Syaikh Hatim Al-A’shom. makna a’shom adalah tuli. Syaikh Hatim berpura-pura tuli agar wanita itu tidak malu. Menjaga muruah wanita. Bahkan menurut kisah, ia melakukan itu selama 15 tahun.

Masih tentang masalah kentut, angin liar yang bisa bikin heboh orang sekampung. Adalah seorang pemuda, sifatnya cool, pendiam dan sungguh pemalu. Paling tidak seperti itulah sifat yang dikenal teman-teman sekerjanya. Jangankan kentut, sendawa bahkan batuk sekalipun ia sangat menjaganya. Dalam batas-batas sopan maksudnya. Satu kali, saat berkumpul bersam teman sejawat, ia mengeluarkan kentut dengan suara keras. Tentu saja keributan terjadi. Semua mata memandang dirinya sebagai sumber suara. Tak sulit melacak suara keras. Bukannya malu dan merasa bersalah, ia malah tertawa lebar… dengan bangga. Teman-temannya bereaksi, bermacam ragam celoteh dan ucapan mereka. Namun pemuda cool ini malah balas menatap sorot mata teman-temannya dengan penuh percaya diri. Ternyata ia baru saja mengamalkan ilmu yang baru didapatnya dari internet, tentang tipe kepribadian berdasar kentut. Bahwa kentut dengan suara keras di depan umum adalah tipe pribadi yang penuh percaya diri. Dan ia melakukan dengan sempurna. Ia membuktikan, bahwa dirinya sangat pede, dan berani melakukan tips kentut seperti itu.

Tak mengapa kita membahas masalah kentut. Dua kisah di atas bisa sebagai bahan, mengambil pelajaran dari kasus dan cerita. Wanita itu tentu saja tidak sopan, tapi ia tidak sengaja. Kondisi yang sangat dimaklumi oleh hukum perilaku. Tapi ia merasa sangat malu dan bersalah. Yang menarik justru sikap ulama itu. Menjaga kehormatan orang lain dengan mengorbankan dirinya. Sebuah sikap luar biasa. Akhlak mulia sangat indahnya. Sangat berkepentingan menjaga harga diri orang lain. Benar-benar tak rela hatinya, jika orang lain malu lantaran dirinya. Meski dia tak berbuat salah. Hanya dia tahu, orang lain kentut di depannya. Hanya masalah kentut. Pastilah takan ia rusak kemuliaan orang lain tanpa alasan. Dan kita sudah mendapat pelajaran berharga.

Cerita kedua, Seorang pemuda yang belajar dari kentut. ia merasa kurang pandai bergaul. Dan sikap pedenya terbantu dengan kentut keras di depan orang banyak. Ia merasa tips yang diperaktekkan berhasil. Ia merasa lebih berani. Lebih pede. Adakah yang salah? Tentu saja salah jika parameter ke-pede-annya hanya dengan kentut. Dan orang yang tidak berani kentut di depan umum berarti orang yang tidak pede. Tidak bisa bergaul. Jika tips itu sebagai satu stimulan saja, mungkin bisa ada benarnya. Berarti kentut di depan umum bukan satu-satunya ukuran. Dan karena itu hanya sebagai stimulan, maka jangan dilakukan terus. Hanya untuk alat tes keberanian. Karena jika secara terus dilakukan dan menjadi kebiasaan, maka akan masuk ke bab lain yang menyalahkan. Yakni bab adab. Sejak lama, orangtua kita mengajarkan, adab dalam bergaul mesti diperhatikan. dan memenej kentut diantaranya. Jangankan kentut, sendawa setelah makan saja ada adabnya. Begitu juga batuk. Membuang lendir dari tenggorokan dan sebagainya. Semata-mata ini masalah adab. Sopan santun dan kebiasaan mulia. Mari kita renungi lagi kisah di atas. Seorang ulama yang sangat sensitif hatinya. Luhur akhlaknya. Mulia perilakunya. Luar biasa…!

Dalam satu kisah, seorang ulama berpesan, ” Jika ada diantara kamu ada yang kentut, jangan jadi bahan tertawaan. Karena jika kau lakukan itu, akan membuat saudaramu malu dan jatuh harga dirinya. Bersikaplah tajahul alias pura-pura tidak tahu.  Hal itu akan membuatnya nyaman.  Dan jika diantara kamu kentut sembarangan, dengan sengaja di depan umum, sesungguhnya itu perilaku yang buruk. Jangan lakukan itu. Karena akan ada banyak orang yang tidak suka kepadamu.”

Lihat juga http://unggulo.wordpress.com/2007/09/28/ilmiah-intelek-tentang-kentut/

1 Response to "Pelajaran dari (maaf!)Kentut"

1 | NINIES

January 10th, 2010 at 7:13 am

Avatar

ditambah lagi ya….. artikel2nya..:]

ma puisinya……. biar sekalian………………….

Comment Form

Categories

kalender

July 2010
M T W T F S S
« Jun    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

  • na_fillahz: magic word....
  • raganata: ehm....guru.kenapa isinya tentang kekecewaan semua ke orang yang dulu disebut guru?sayaaaang banget. padahal bisa jadi kekecewaan mereka jauh lebih ba
  • Danu: Jihad adalah perang terhadap kebatilan tapi jihad bukanlah teror yang menyebabkan kerusakan atau kematian orang seiman. Berrsyukur aku kepada Allah k

About

This is an example of a WordPress page, you could edit this to put information about yourself or your site so readers know where you are coming from.